Selasa, 13 Maret 2012

KRONOLOGI KASUS PEMBUNUHAN OLEH John Refra Kei JOHN KEI

John Kei Bertemu Bos Sanex di Hotel


foto
TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menjelaskan John Kei sempat bercakap-cakap dengan Tan Harry Tantono, bos Sanex Steel, di Swiss-Bel Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, akhir Januari lalu.

“Mereka ke sana untuk selesaikan masalah,” kata Rikwanto di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Senin siang, 20 Februari 2012 siang.

Rikwanto mengatakan, sebelum pembunuhan terjadi, John Kei dan Tan Harry bercakap-cakap di sofa kamar 2701 yang disewa atas nama John Kei. Di dalam kamar tersebut setidaknya ada dua rekan John yang juga punya masalah dengan Tan Harry.

Cerita tersebut sesuai dengan yang disampaikan pengacara John Kei, Tofik Chandra. Tofik mengatakan, sebelum pembunuhan terjadi, John bercakap-cakap dengan Tan Harry. Di sana hadir juga beberapa rekan John Kei. Tofik menyebutkan ada empat rekannya yang ikut dalam percakapan tersebut.

Tapi ia mengatakan percakapan tersebut hanyalah percakapan ringan untuk saling bertegur sapa. “Bung John belum sempat ucapkan selamat Imlek pada Tan Harry,” katanya.

Berdasarkan cerita Tofik, pertemuan mereka di kamar 2701 terjadi sekitar pukul 21.30. Dua jam kemudian atau pukul 22.30 kemudian, datanglah sebelas anak buah John dan masuk ke kamar. John kemudian ke luar kamar dan turun menggunakan lift.

Setelah setengah jam berada di kamar tersebut, anak buah John berhamburan keluar dengan tangan bersimbah darah. Satu di antaranya, yang bernama Candra, terekam kamera closed circuit television (CCTV) tengah membawa pisau.


Polisi Selidiki Keterlibatan John Kei Lewat CCTV
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta -- Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto mengatakan durasi rekaman Closed Circuit Television (CCTV) di Swiss-Belhotel Jakarta, tempat pembunuhan mantan Direktur PT Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono akhir Januari lalu, bisa menjadi salah satu bukti dugaan pembunuhan berencana oleh John Kei dan anak buahnya.

"Dari waktu John Kei masuk kamar hotel sampai ke luar kamar itu kan ada jedanya. Jeda itu kami anggap sebagai perencanaan (pembunuhan)," ujar Toni, Rabu, 22 Februari 2012.

Walau hanya satu jam, misalnya, kata Toni, durasi tersebut dianggap sebagai kemampuan manusia untuk berpikir akan membunuh atau tidak. "Apalagi rekaman itu asli, tidak diedit. Hal itu menjadi petunjuk yang membuktikan John Kei terlibat," ucapnya.

Dari barang bukti tersebut, polisi mendapatkan alat bukti, ditambah keterangan saksi ahli, dan keterangan tersangka.

Untuk barang-barang yang disita polisi dalam penggeledahan di rumah John Kei beberapa waktu lalu, polisi belum bisa menentukan apakah barang temuan itu bisa menjadi barang bukti atau tidak. "Masih diperiksa oleh tim forensik. Mengenai rekaman kasus kriminal John Kei juga akan dibahas besok dengan kepolisian di wilayah," kata Toni.

John Kei Peringati Rabu Abu di Rumah Sakit
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta- Awal Paskah tahun ini berbeda buat John Refra Kei. Sebab, ia harus rela memperingati 40 hari jelang Paskah atau Rabu Abu dari tempat tidurnya di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati.

Rabu sore, 22 Februari 2012, keluarga John mengundang Pastor Tino untuk menuntun doa bersama di ruang perawatannya di bangsal Trembesi RS Polri. "Dalam keadaan seperti ini Bung John bisa saja lupa. Makanya kami keluarga yang kasih tahu," kata Yopie Ulahayanan Kei, saudara sepupu John, Rabu 22 Februari 2012.

Yopie mengatakan, keluarga John sengaja tidak ke gereja pagi tadi untuk bisa memperingati Rabu Abu bersama di RS Polri. "Ada ritual memberi tanda salib dari abu untuk seluruh keluarga," kata Yopie.

Pukul 16.30 WIB, istri dan tiga anak John tiba di RS Polri. Pastor Tino sampai di RS Polri pukul 17.45 WIB. Penjaga di depan pintu mengizinkan Yopie dan sang pastor masuk.

John, kata Yopie, rencananya tidak puasa Paskah dulu. "Karena kan masih sakit," ujar dia.

John Kei dirawat di RS Polri sejak Jumat malam 17 Februari 2012 lali setelah kakinya ditembak polisi. Ia ditangkap di kamar 501 Hotel C’one, Pulomas, Jakarta Timur. Ia dan Kelompoknya diduga berperan mantan Direktur PT Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss-Belhotel, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012 lalu.




Ada 'Order' Pembunuhan Direktur Power Steel?
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO , Jakarta--Polisi menduga pembunuhan yang dilakukan John Refra alias John Kei terhadap bekas Direktur Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono, dilakukan karena ada yang memerintah alias orderan. Pihak yang menyuruh ditengarai sesama pengusaha, dan polisi sedang menyelidikinya.

Sebelumnya ada pengakuan dari anak buah John Kei bahwa keterlibatan tersangka dipicu oleh fee jasa yang belum dibayar oleh Tan Harry alias Ayung. “Masih terbuka kemungkinan persaingan bisnis. Untuk motif, masih kami dalami,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto, Rabu 22 Februari 2012.

Toni menjelaskan, durasi rekaman kamera CCTV di Swiss Bel-Hotel pada 26 Januari lalu bisa menjadi bukti adanya pembunuhan terencana oleh kelompok John Kei terhadap Tan. Polisi mengidentifikasi 13 kamera CCTV yang memperlihatkan aktivitas mereka di Hotel Swiss Bel, mulai dari lobi, lift, hingga koridor atas.

"John Kei masuk kamar hotel sampai keluar kamar, itu kan ada jedanya. Jeda itu kami anggap sebagai perencanaan (pembunuhan)," ujar Toni sambil menambahkan, alat bukti itu akan ditambah dengan keterangan saksi ahli serta keterangan tersangka lain.

Kepolisian wilayah di Jakarta dan sekitarnya hari ini menggelar pertemuan di Polda Metro Jaya. Mereka membahas kasus kriminal yang terkait dengan John Kei dan kelompoknya. Polda, menurut Toni, memiliki catatan belasan kasus kriminal yang belum terselesaikan. Hal itu termasuk kasus perkelahian di klub malam Blowfish dan di jalan di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Kami akan lihat apakah sudah kedaluwarsa. Kalau belum, kami akan selesaikan,” kata Toni.

Polisi menyergap John Kei di sebuah kamar hotel di Pulomas, Jakarta Timur, pada Jumat malam lalu. Dalam operasi penyergapan itu John ditembak pada betis kanannya. Ratusan orang yang mengaku berasal dari Angkatan Muda Kei (AMK) menyatakan dukungannya terhadap penangkapan John Kei tersebut. Mereka menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia dan di depan Markas Besar Polri kemarin. “Hidup preman baik!” mereka berseru.

Secara terpisah, juru bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan operasi khusus memberantas premanisme dimulai hari ini. Operasi bersandi Operasi Kilat Jaya 2012 tersebut dilakukan di seluruh wilayah Jabodetabek.


ohn Kei Dijerat Pasal Pembunuhan dan Narkotik
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta - John Refra alias John Kei akan dijerat pasal penggunaan narkotik. Hal ini terkait penangkapan dirinya di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, ketika sedang pesta sabu-sabu bersama Alba Fuad.

"Hasil tes urine John Kei positif menggunakan narkotik," kata juru bicara Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, ketika ditemui di kantor Humas Mabes Polri, Senin, 20 Februari 2012.

Saud menyatakan hasil positif pemeriksaan urine tidak hanya didapat dari Alba Fuad. Keduanya akan diproses dengan tuntutan penggunaan narkotik jenis sabu-sabu. "Polda Metro yang akan mengurusnya," kata Saud.

Terkait penangkapan Jumat lalu, Saud menyatakan John Kei diamankan karena diduga berperan dalam pembunuhan Direktur PT Sanex Steel, Tan Harry Tantono. Oleh karena itu, kata Saud, John Kei akan dikenakan dua kasus, yaitu pembunuhan berencana terhadap Tan Harry dan penggunaan narkotik.

Polda Metro Jaya menangkap John Kei saat berada di sebuah kamar di Hotel C’One, Pulomas, Jakarta Timur. John ditangkap atas keterlibatannya dalam kasus pembunuhan mantan Direktur Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono, 45 tahun.

Jumat malam, 17 Februari 2012, puluhan polisi mengepung kamar yang ditempati John Kei. Dalam penangkapan ini, seorang anggota polisi memberikan tembakan ke arah kaki kanan John Kei. Alasan penembakan agar John tidak melarikan diri.

John ditangkap di kamar itu bersama Alba Fuad ketika sedang pesta sabu-sabu. Selepas penangkapan, John Kei dibawa ke Markas Polda Metro Jaya. Ia dirawat sebentar di Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Polri, Kramat Jati.


Hubungan John Kei dan Alba Fuad
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta - Penangkapan John Refra alias John Kei, tokoh organisasi pemuda Kei, Maluku, bersama dengan artis Alba Fuad pada Jumat, 17 Februari 2012 lalu, menimbulkan pertanyaan. Keduanya ditangkap di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, ketika sedang mengkonsumsi obat terlarang jenis sabu.

Pengacara John Kei, Taufik Chandra, enggan mengomentari hubungan keduanya. "Itu masalah pribadi, saya tidak berhak berbicara," katanya, Rabu, 22 Februari 2012.

Mengenai keperluan pertemuan antara John dan Alba pada malam penangkapan, Taufik mengatakan, akan memberikan keterangan apabila waktunya sudah tepat. "Nanti saja ya keterangannya," ujar Taufik.

John Kei ditangkap karena ia diduga terlibat kasus pembunuhan mantan Direktur PT Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012 lalu.

John Kei, Ketua Angkatan Muda Kei (AMKei), beberapa kali berurusan dengan hukum. Pada 2008, ia ditangkap di Tual, Maluku, karena terbukti menganiaya dua orang warga hingga jarinya putus.

Pada April 2010, kelompoknya bentrok dengan kelompok pemuda Flores di sebuah diskotek di Jakarta, yang mengakibatkan dua orang anggotanya tewas. Perkelahian berlanjut ketika persidangan kasus tersebut digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada September 2010. Tiga orang dari kelompok Kei tewas, puluhan lainnya luka-luka.




Polisi: Ada Belasan Catatan Kriminal John Kei
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Toni Harmanto menyatakan akan mengundang kepolisian di wilayah untuk membahas rekaman kasus kriminal John Kei. "Kemungkinan besok kami akan bertemu," kata Toni, Rabu, 22 Februari 2012.

Menurut catatan Polda Metro Jaya, John Kei memiliki belasan kasus kriminal yang sampai sekarang belum terselesaikan. Kasus-kasus tersebut termasuk kasus yang terjadi di Blowfish dan perkelahian di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menurut dia, polisi akan menilai apakah kasusnya kedaluwarsa atau tidak. “Kalau belum kedaluwarsa kami akan selesaikan," kata Toni.

Mengenai apa sebenarnya motif pembunuhan mantan Direktur PT Power Steel Mandiri, Tan Harry Tantono, akhir Januari lalu, juga akan dibahas. "Untuk sementara, menurut tersangka, motifnya adalah mengenai fee jasa penagihan utang yang belum dibayar," ucap Toni.

Menurut Toni, kemungkinan lain seperti adanya perintah dari pihak atau sesama pengusaha yang menjadi saingan bisnis korban untuk membunuh korban, masih terbuka. "Untuk motif masih kami dalami," ujarnya.


Hotel C'One Sepi Setelah John Kei Ditangkap
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta - Wajah Ican tertekuk lesu. Karyawan Hotel C'One itu berdecak kesal ketika Tempo meminta diantar menuju kamar 501. "Pusing saya," katanya sambil berjalan menemani, setengah enggan, Rabu siang, 22 Februari 2012.

Ican mengeluh penangkapan John Kei pada Jumat, 17 Februari 2012 lalu membuat hotel jadi lebih sepi. Ican mengakui persentase penurunan pengunjung mencapai 50 persen. "Jadi sepi hotel ini," ucapnya lunglai.

"Nanti kalau terus sepi, gimana kami makan..." ia berkata lagi. Namun, Ican tak dapat merinci jumlah pengunjung sehari-hari sebelum dan sesudah kejadian. Hanya posisi jaga pintu depan membuatnya dapat menyimpulkan soal jumlah tamu yang datang.

Sementara itu, pihak manajemen hotel belum dapat dimintai keterangan. Wanita petugas penjawab telepon hotel mengatakan, C'One tak punya public relations maupun bagian marketing. "Kalau ada yang mau disampaikan, langsung ke general manager kami," kata dia. "Tapi sekarang sedang rapat di kantor pusat," katanya lagi.

Hotel C'One adalah bagian dari jaringan hotel Grand Cempaka Group. Kamar 501 jadi tempat John Refra dibekuk polisi Jumat pekan lalu. Sebanyak 75 reserse polisi dikerahkan untuk menangkap pria asal Pulau Kei, Maluku Tenggara, tersebut.





John Kei, dari Tanah Abang hingga Australia
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta - John Kei, alias John Refra, dikenal memiliki bisnis jasa pengamanan yang cakupannya luas. Di Ibu Kota, bisnis tersebut menguasai wilayah Tanjung Priok sampai Tanah Abang. Bahkan bisnisnya juga berkembang ke luar negeri hingga menyeberang ke Singapura dan Australia.

Menurut salah seorang pentolan kelompok John Kei, Agrafinus, kelompok John Kei juga berfokus kepada jasa penagihan utang dan pengacara. Wawancara tersebut diterbitkan di majalah Tempo pada 15 November 2010.

Pria yang sempat menjadi pencari bakat tinju ini, sebelum ditangkap pada Jumat malam, 17 Februari 2012, pernah terbentur berbagai kasus. Pada 2008, John Kei ditangkap di Kota Tual, Maluku. Ia diduga menganiaya dua warga Tual, Charles Refra dan Remi Refra. Penganiayaan menyebabkan jari kedua pemuda itu putus.

Sidang pada kasus tersebut diselenggarakan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 9 Desember 2008. Pemindahan tempat sidang disebabkan situasi keamanan tidak memadai untuk mengadili preman seperti John Kei yang sudah sangat dikenal di daerahnya.

Kelompok John Kei pernah bentrok dengan kelompok Basri Sangaji yang juga asal Maluku. Perseteruan kedua kelompok terjadi di Diskotek Stadium, Jakarta Barat, pada 2004. Bentrokan menewaskan dua orang.

Pada Juni 2005, bentrok kelompok John Kei-Basri kembali terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Kakak John Kei, Walferus Refra, tewas dalam bentrokan ini. Kematian Walferus disebut-sebut sebagai ganti rugi nyawa atas kejadian di Diskotek Stadium yang menewaskan anggota kelompok Basri.

John Kei kembali berurusan dengan kepolisian setelah ditangkap Jumat malam, 17 Februari 2012 di sebuah kamar di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta. Ia ditangkap bersama artis Alba Fuad ketika keduanya tengah pesta sabu-sabu.

John ditangkap atas dugaan terlibat kasus pembunuhan Direktur Power Steel Mandiri Tan Harry Tantono. Harry ditemukan tewas dengan luka penuh tusukan di Swiss Bell Hotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012 lalu.



Alasan Polisi Jerat John Kei Pasal Pembunuhan
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, Jakarta -Juru Bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, penyidik kepolisian sudah menyertakan pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan berencana dalam jerat sangkaan terhadap John Kei.

"Kami melihat seluruh rangkaian. Dari mulai pemesanan kamar hingga terjadi pembunuhan," kata Rikwanto di kantornya pada Senin 20 Februari 2012 malam. "Yang jelas dia berada di kamar tempat pembunuhan terjadi," katanya menambahkan.

Rikwanto mengatakan penyidik masih mendalami keterlibatan John Kei dalam kasus pembunuhan bos Sanex Steel Tan Harry Tantono. Polisi, kata Rikwanto, mengusut potensi keterlibatannya sebagai perencana ataupun sekadar turut serta.

Selain menjerat John Kei dengan pasal pembunuhan berencana, penyidik juga menyertakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Polisi juga menyertakan pasal 55 ayat 1 dan 56 KUHP untuk menjerat John Kei. Pasal 55 pasal 1 mengatur tentang turut serta nya seseorang dalam tindak pelanggaran pidana. Sementara pasal 56 mengatur tentang orang yang membantu terjadinya kejahatan.

"Tentu semua pasal itu harus dimasukkan. Nanti dengan pasal mana ia dibuktikan bersalah ditentukan di pengadilan," kata Rikwanto.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon